udah pada nonton film ini belum? buruan deh nonton, insya Allah ga nyesel, saya tadi malam nonton film ini di Megaria 21 yang deket dari rumah, trus HTM nya juga murah, 10 ribu euy... interior bioskopnya juga udah bagus... loh kok malah bahas bioskopnya nih?
Film yang berjudul Kun Fayakun diproduseri oleh Ustaz Yusuf Mansur dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Novel Religi Kun Fayakun yang ditulis oleh Andi Bombang, yang menceritakan perjalanan religi seorang preman di Jakarta. Judulnya aja yang sama, tapi tidak ada hubungan antara keduanya.
Pemeran utama film ini Agus Kuncoro dan Desi Ratnasari, yang berperan sebagai suami istri (Pak Ardan dan Bu Ardan) yang hidup dalam kondisi penghasilan yang pas-pasan karena Pak Ardan mencari nafkah dengan berjualan kaca dan bingkai keliling. Namun, di balik itu mereka tetap tidak henti-hentinya mengingat Allah melalui untaian doa dan syukur, dan benar-benar menyandarkan segala sesuatunya hanya kepada Allah SWT. Keinginan Pak Ardan untuk memiliki toko kaca sendiri akhirnya diijabah oleh Allah SWT. melalui bantuan pak Bram, yang dulunya pernah menjadi kekasih ibu Ardan sebelum menikah dengan Pak Ardan.
Terus terang saya lebih seneng nonton film ini daripada film Ayat-Ayat Cinta yang saya rasa gagal menerjemahkan segitu banyak hikmah dari Novel Kang Abik tersebut. di Film Kun Fayakun ini, kalo kita menyimak baik-baik, akan banyak hikmah yang kita bisa petik, diantaranya adalah kita harus bisa memaafkan kesalahan orang lain yang sudah meminta maaf dengan tulus kepada kita, dan sesusah apapun kehidupan kita, bersedekah ga boleh ditinggalin...
Film ini islami, bener-bener islami, dialog-dialognya juga tidak sepi dengan kalimat yang senantiasa mengagungkan kebesaran Allah. Namun saya kurang sreg dengan adegan dimana pak Ardan minum berdiri, dan pada saat ibu Ardan makan nasi sambil berdiri, wah itu mah ga islami lagi... hehehehe... satu lagi, kok ibu Ardan baru menutup aurat dengan sempurnya pada akhir filmnya, dari awal film, sosok ibu Ardan digambarkan hanya menutup kepalanya dengan cipo'-cipo (semacam kupluk), sehingga terlihat leher dan telinga yang saya yakin itu masih termasuk aurat perempuan. Mungkin itu salah satu cara sutradara untuk menggambarkan kemiskinan keluarga Pak Ardan, saking miskinnya sampe bisa beli jilbab? seandainya adegan yang ada bu Ardannya hanya di dalam rumah saja, mungkin masih bisa dimaklumi, karena di dalam rumah itu masih muhrim ibu Mardan. namun adegan di rumah sakit yang notabene tempat umum, ibu Ardan masih tidak menutup aurat dengan sempurna... yah demikian kritik dari saya.
Aktor lain yang nongol seperti Zaskia Mecca, Andre Taulani dan Opick tidak lebih dari sekedar figuran karena nongolnya cuman beberapa detik. selain itu saya masih penasaran dengan bagian akhir dari film. digambarkan ibu Ardan yang sudah kaya, menggunting pita seakan-akan sedang meresmikan sesuatu. saya ga tau yang diresmikan itu apa. dan memang tidak ada penjelasan tentang itu. Ada yang tahu?
kunjungi
http://kunfayakuunthemovie.com